I.
Himpunan semesta ( S )
Adalah suatu himpunan yang anggota-anggotanya meliputi
semua anggota himpunan lain yang sedang dibicarakan darimana himpunan lainnya
terbentuk.
II.
Himpunan bagian, Elemen/Anggota
Himpunan
Ditulis A С B. A dikatakan himpunan bagian dari B jika dan hanya jika setiap
anggota A juga merupakan anggota B.
Contoh:
Himpunan A = { a,
b, {c}, d }, maka untuk :
a.
Elemen/ unsur/Kardinalitas: a ϵ
A; b ϵ A; {c} ϵ A; d ϵ A
b.
Himpunan bagian: {a} Ϲ A; {b} Ϲ
A; {a, b } Ϲ A , dan lain lain.
·
Banyak elemen / anggota himpunan
dari A : n (A ) ≡
n ≡ 4
·
Banyak himpunan bagian dari himpunan A = 2n = 24 = 16. (Himpunan kosong termasuk
himpunan bagian dari semua himpunan)
·
Banyak himpunan bagian dari A yang tidak kosong : 2n – 1 =
16 - 1 = 15
III.
Himpunan Komplemen ( Ac atau A’)
Himpunan komplemen dari suatu himpunan A adalah himpunan
yang anggota-anggotanya bukan anggota himpunan A.
Contoh: Himpunan
S = { 1, 2, 3, 4,
5 }
Himpunan A = { 1, 2 }, Ac
= {3, 4, 5}
IV.
Himpunan kosong
Himpunan yang tidak mempunyai unsur. Ditulis { }, atau ø
Himpunan kosong
{ } = ø, bukan { 0 }. Himpunan kosong merupakan anggota dari
setiap himpunan.
V.
Operasi antar himpunan
·
Operasi Irisan( ∩ )
·
Operasi Gabungan ( ᴜ )
·
Operasi Selisih ( - )
·
Operasi Tambah ( + )
VI.
Sifat-sifat himpunan
·
Sifat Komutatif è A ∩ B
= B ∩ A; A ᴜ B = B ᴜ A
·
Sifat Asosiatif è A ∩ (
B ∩ C) = ( A ∩ B ) ∩ C
·
Sifat Distributif è A ∩ (
B ᴜ C ) = ( A ∩ B ) ᴜ ( A ∩ C )
·
Sifat De Morgan ( Dalil De Morgan) è
( A ∩ B )c = Ac ᴜ Bc
( A ᴜ B )c = Ac ∩ Bc
Dasar-Dasar Operasi Bilangan
I.
Empat operasi fundamental dalam aljabar adalah penjumlahan, pengurangan, pembagian, perkalian
II.
Sistem bilangan nyata
1.
Bilangan Asli
2.
Bilangan Rasional Positif
3.
Bilangan Irrasional Positif
4.
Nol (Zero). Nol memiliki sifat bahwa setiap bilangan yang dikalikan
dengan nol adalah nol. Bila dibagi dengan bilangan yang tidak sama dengan nol
adalah nol.
5.
Bilangan Bulat Negatif.
Sistem bilangan nyata, terdiri dari kumpulan
bilangan rasional dan irrasional. Positif, negative, dan nol.
Kata nyata (riil) digunakan sebagai lawan
dari bilangan lain seperti
yang kita bahas sebagai bilangan khayal atau
imaginary.
III.
Representasi bilangan nyata pada grafik
Jika kita
menetapkan titik nol sebagai acuan, daerah sebelah kiri nol ditetapkan sebagai
daerah bilangan bulat negative yang semakin ke kiri nilainya semakin kecil,
sedang daeah sebelah kanan nol ditetapkan sebagai daerah bilangan bulat positif
yang semakin ke kanan nilainya semakin besar.
-4 -3
-2 -1 0
1 2 3
IV.
Harga Mutlak, merupakan suatu nilai hitung dari sebuah bilangan.
Ditunjukkan dengan dua garis vertical
. Jadi,
= 6. 
V.
Hukum penjumlahan dan perkalian
·
Komutatif
a + b = b + a
a . b = b . a
·
Asosiatif
a + b + c = a + ( b
+ c ) = ( a + b ) + c
a . b . c = a . ( b
. c ) = ( a . b ) . c
·
Distributif
a ( b + c ) = a . b
+ a . c
VI.
Perpangkatan dan pangkat
Apabila sebuah
bilangan a dikalikan dengan dirinya sendiri sebanyak n kali: a . a. a . a . a .
a . … a (n kali) penulisan ditulis dengan an.
Pada an,
bilangan a dikatakan sebagai bilangan pokok dan n adalah perpangkatan.
Hukum-hukum
perpangkatan.
Untuk dua buah
bilangan, p dan q. Berlaku:
1. ap . aq = ap+q
2.
, jika a
tidak sama dengan nol.
3.

4.
,
, jika b
tidak sama dengan nol.
VII.
Operasi Pecahan
1.
Harga pecahan tetap sama apabila pembilang dan penyebut, keduanya
dibagi atau dikali dengan bilangan yang sama.
2.
Perubahan tanda dari pembilang atau penyebut dati sebuah pecahan akan
mengubah tanda pecahan
3.
Menjumlahkan dua pecahan yang mempunyai penyebut yang sama adalah
menjumlahkan pembilang pembilang pecahan tersebut dan penyebutnya merupakan
persekutuan penyebut.
4.
Penjumlahan atau pengurangan dua pecahan yang mempunyai penyebut yang
berbeda diperoleh dengan menulis pecahan dengan sebuah persekutuan penyebut.
5.
Perkalian dua pecahan adalah sebuah pecahan yang pembilangnya adalah
hasil kali kedua pembilang dari pecahan-pecahan yang diberikan, dan penyebutnya
adalah hasil kali penyebut penyebut dari pecahan pecahan yang diberikan.
6.
Kebalikan dari sebuah pecahan adalah sebuah pecahan yang pembilangnya
menjadi penyebut dan penyebutnya menjadi pembilang.
7.
Untuk membagi dua pecahan, kalikan pecahan pertama dengan kebalikan
dari pecahan ke dua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar